“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran [3]: 104)
Stroke adalah suatu sindroma yang mempunyai karakteristik suatu serangan yang mendadak, nonkonvulsif yang disebabkan karena gangguan peredaran darah otak non traumatik. (Tarwoto, 2007).
Stroke atau cedera cerebrovasculer adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
Stroke merupakan sindrom klinis dengan gejala gangguan fungsi otak secara fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih yang dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang menetap lebih dari 24 jam tanpa penyebab lain kecuali gangguan pembuluh darah otak (WHO,1983).
A. KONSEP DASAR 1. Pengertian a. Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis, termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. (Price, S.A., 1995, hal: 1111)
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, Aa, 1999, hal: 580).
Diabetes Melitus(DM) adalah masalah yang mengancam hidup (kasus darurat) yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut. (Doenges, 2000, hal: 726).
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronik yang komplek yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, berkembangnya komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Long, B.C, 1996, hal: 4).
Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)
Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)
Asma bronkial merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh tanggap reaksi yang meningkat dari trakhea dan bronki terhadap berbagai macam rangsangan yang manifestasinya berupa kesukaran bernapas, karena penyempitan yang menyeluruh dari saluran napas. Penyempitan ini bersifat dinamis dan derajat penyempitannya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun karena pemberian obat-obatan. Kelainan dasarnya, tampaknya suatu perubahan status imunologis si penderita. (United States Nasional Tuberculosis Assosiation 1967).
2. Klasifikasi
Secara etiologis asma bronkial dibagi dalam 3 tipe:
2.1Asma bronkial tipe non atopi (intrinsik)
Pada golongan ini, keluhan tidak ada hubungannya dengan paparan (exposure) terhadap alergen dan sifat-sifatnya adalah: serangan timbul setelah dewasa, pada keluarga tidak ada yang menderita asma, penyakit infeksi sering menimbulkan serangan, ada hubungan dengan pekerjaan atau beban fisik, rangsangan psikis mempunyai peran untuk menimbulkan serangan reaksi asma, perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang non spesifik merupakan keadaan peka bagi penderita.
Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi - decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.
Halusinasi merupakan akibat adanya gangguan dalam proses berpikir dan orientasi realitas. Individu tidak mampu membedakan rangsangan internal dan eksternal. Halusinasi didefinisikan sebagai persepsi sensori dari suatu obyek tanpa adanya suatu rangsangan dari luar. Gangguan persepsi ini meliputi seluruh panca indra.
Disfungsi yang terjadi pada halusinasi menggambarkan hilangnya kemampuan menilai realitas, klien hidup dalam dunianya sendiri dan merasa terganggu dalam interaksi sosialnya sehingga menyebabkan gangguan berhubungan sosial, komunikasi susah, dan kadang-kadang membahayakan diri klien, orang lain maupun lingkungan, menunjukan bahwa klien memerlukan pendekatan asuhan keperawatan secara intensif dan komprenhensif.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di ruang Perkutut, terdapat ± 70 % (dari 24 klien) yang mengalami halusinasi. Masalah keperawatan yang ada, yakni klien belum tahu bagaimana cara mengontrol halusinasinya, klien menunjukan perilaku menarik diri, hubungan interpersonal dan komunikasi kurang sebagai dampak dari timbulnya halusinasi.
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga.
Tahapan proses keperawatan keluarga diantaranya :
IMPLEMENTASI
Tindakan yang dilakukan oleh perawat kepada keluarga berdasarkan perencanaan mengenai diagnosa yang telah dibuat sebelumnya. Tindakan keperawatan terhadap keluarga mencakup hal-hal dibawah ini ;
Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 alenia ke-4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.Untuk mencapai tujuan tersebut di selenggarakan program Pembangunan Nasional secara berkelanjutan, terencana dan terarah. Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan Nasional. Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal,
keberhasilan pembangunan Kesehatan berperan penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Puskesmas adalah penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan untuk jenjang tingkat pertama. Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut bagi setiap Puskesmas Wajib untuk menyusun Rencana Kegiatan Tahunan yang disebut dengan PTP yaitu Perencanaan Tingkat Puskesmas, dimana secara umum perencanaan tersebut adalah suatu proses penyusunan yang sistematis mengenai kegiatan – kegiatan yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah –masalah yang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga Puskesmas dapat mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya yaitu tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.
Segitiga epidemiologi merupakan konsep dasar epidemiologi yang memberi gambaran tentang hubungan antara tiga faktor yg berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya
Segitiga epidemiologi merupakan interaksi antara Host (penjamu), Agent (penyebab) dan Environment (lingkungan)
Segitiga Epidemiologi
Keadaan di masyarakat dikatakan ada masalah kesehatan jika terjadi ketidak seimbangan antara Host, Agent dan Environment
Pada saat terjadi ketidakseimbangan antara Host, Agent dan Environment akan menimbulkan penyakit pada individu atau masalah kesehatan di masyarakat
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH (STIKIes)
PRINGSEWU – LAMPUNG
2010
KATA PENGANTAR
Assamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,taufik dan hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Anak “BRONCHOPNEUMONIA” dengan baik. Dalam makalah ini menjelaskan tentang pengertian,etiologi,manifestasi klinis,patofisiologi,penatalaksanaan,serta asuhan keperawatan terhadap bronchopneumonia.Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan direalisasikan oleh para pembaca demi kemajuan tentang pengetahuan Keperawatan Anak.
Dan terima kasih kepada rekan – rekan semua dan Dosen atas dukungan,bantuan dan kerjasamanya sehingga makalah ini dapat dibuat dengan lancar.Terakhir, kami ucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang tertarik membaca makalah ini.Sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari kekurangan,untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi pembelajaran dan perbaikan untuk yang lebih baik.
Pringsewu,Nopember 2010
Penyusun
PENGERTIAN
Menurut Whaley & Wong, Bronchopneumonia adalah bronkiolus terminal yang tersumbat oleh eksudat, kemudian menjadi bagian yang terkonsolidasi atau membentuk gabungan di dekat lobulus, disebut juga pneumonia lobaris.
Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang di bronkeoli terminal. Bronkeoli terminal tersumbat oleh eksudat mokopurulen yang membentuk bercak-barcak konsolidasi di lobuli yang berdekatan. Penyakit ini sering bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam infeksi yang spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh.(Sudigdiodi dan Imam Supardi, 1998)
Bronchopnemonia adalah proses peradangan yang terjadi pada kedua lapang paru hingga Broncus, termasuk dinding Alveolus, jaringan peribronkial serta jaringan interlobuler (St. Carolus, 2000).
Bronchopnemia adalah suatu peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang dapat tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus (A. Aziz Halimul Hidayat jilid 2, 2006).
Kesimpulannya bronchopneumonia adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh agen infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli.
2.ETIOLOGI
Secara umun individu yang terserang bronchopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat.
Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa, mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682) antara lain: 1. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella. 2. Virus : Legionella pneumoniae 3. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans 4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru 5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.
Sebab lain dari pneumonia adalah akibat flora normal yang terjadi pada pasien yang daya tahannya terganggu, atau terjadi aspirasi flora normal yang terdapat dalam mulut dan karena adanya pneumocystis cranii, Mycoplasma. (Smeltzer & Suzanne C, 2002 : 572 dan Sandra M. Nettina, 2001 : 682)
3.TANDA DAN GEJALA
a)Manifestasi Klinis
Adapun tanda dan gejala dari Bronchopneumonia adalah :
a.Bronchopneumonia biasanya didahului oleh infeksi tractus respiratory bagian atas selama beberapa hari.
b.Suhu tubuh dapat naik dengan sangat mendadak 390C –400C dan mungkin disertai dengan kejang-kejang karena demam tinggi.
ØSakit kepala, sakit di otot dan anggota gerak, mual dan terkadang muntah-muntah.
ØGelisah, sianosis, sekitar hidung dan mulut.
ØKadang-kadang disertai diare/ kostipasi
ØPerasaan nyeri dada dan nyeri akan bertambah bila batuk dan menarik nafas.
ØBatuk mula-mula non produktif kemudian menjadi produktif.
ØBatuk disertai pengeluaran sputum yang kental dan lengket.
ØPernafasan dangkal dan cepat dengan hidung.
ØPada perkusi dada terdengar redup pada auskultasi dapat terdengar seperti ronchi basah, nyaring halus atau kasar dan wheezing.
b)Komplikasi
§Rusaknya jalan nafas.
§Efusi pleura
§Kalsifikasi paru
§Fibrosis paru
§Bronkitis obliteratif dan bronkiolitis
4)PATHOFISIOLOGI
Bronkopnemonia dapat di sebabkan oleh kuman pathogen yang terdiri dari bakteri,virus ataupun akibat dari aspirasi benda asing ke dalam saluran pencernaan.apabila kuman patogen tersebut mencapai bronkoli terminalis, maka akan menyebabkan respon peradangan yang diikuti dengan munculnya eksudat intra alveolus . proses peradangan ini meliputi munculnya leukosit dalam jumlah banyak dan kemudian makrofag yang akan membersihkan deuresis sel dan bakteri.
Eksudat ini akan tertahan didalam alveolus yang akan mengakibatkan gangguan pertukaran antara oksigen dan karbondioksida sehingga mengurangi kadar oksigen yang beredar dalam darah hal ini kan menimbulkan hiperventilasi atau peningkatan pernafasan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh. Retensi mucus dalam alveolusitu juga akan mengakibatkan bersihan jalan nafas tidak efektif.(Hidayat, Aziz Alimul A, 2006 )
5.PENATALAKSANAAN
·Penatalaksanaan Medis
a.Oksigenasi
b.Pemantauan O2
c.Fisioterapi dada, postural drainage dan penghisapan
d.Cairan parenteral
e.Therapy antipiretik untuk control demam
f.Therapy antibiotic
g.Pengobatan suportif, kebutuhan istirahat, kebutuhan nutrisi dan cairan.
·Tes Diagnostik
a.Photo roentgen
b.Analisa gas darah
c.Pemeriksaan gramkulner sputum dan darah
d.LED
e.Elektrolit
f.Bilirubin
g.Pemeriksaan fungsi paru.
6.ASUHAN KEPERAWATAN BRONCHOPNEUMONIA
Pengkajian Keperawatan
1.Anamnesa
a. Riwayat kesehatan ibu saat mengandungapakah pernah batuk, pilek dan apakah ada obat yang di dapat.
b. Riwayat kesehatan anak :
- Pemeliharaan kesehatan anak, apakah rutin melaksanakan penimbangan ke posyandu.
- Imunisasi
- Apakah pernah dirawat di rumah sakit.
- Penyakit apa yang pernah diderita.
- Apakah ada orang tua atau keluarga yang merokok.
- Apakah ada riwayat alergi
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
- Apakah ada batuk, pilek, banyak lendir.
- Apakah memakai obat-obatan.
- Apakah ada gangguan waktu bernafas, ada sumbatan saluran pernafasan, ada trauma saluran pernafasan.
- Bagaimana posisi saat tidur.
Apakah ada rasa sakit waktu bernafas.
d. Lingkungan
-Kondisi rymah, dekat dengan sumber polusi (kebersihan, ventilasi, pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah).
-Apakah memelihara hewan.
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Perlu diperhatikan adanya Takipnea, dispnea, sianosis,pernafasan cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula non produktif menjadi produktif serta nyeri dada pada waktu menarik nafas, batasan takipnea pada anak 2 bulan sampai 12 bulan adalah 50 kali/menit atau lebih, sementara untuk anak berusia 12 bulan sampai 15 bulan adalah 40 kali/menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding dada ke dalam pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat tarikan dinding dada ke dalam akan tampak jelas.
2. Palpasi
Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar, fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit dan nadi mungkin mengalami peningkatan (tachycardia).
3). Perkusi
Suara redup pada sisi yang sakit.
4). Auskultasi
Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung/ mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengarstridor. Sementara dengan stetoskop akan tedengar suara nafas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit, dan ronkhi basah pada masa resolusi.
3.Penegak diagnosis
a. Pemeriksaan Laboratorium
1). Leukosit 18.000 – 40.000/mm3.
2). Hitung jenis didapatkan geseran ke kiri
3). LED meningkat.
b. X – foto dada
Terdapat bercak-bercak infiltrate yang tersebar ( Bronkopnomenia) atau yang meliputi satu/ sebagian besar lobus/ lobulus.
Diagnosa Keperawatan Teoritis
1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dngan produksi lendir berlebih.
2.Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi pada jaringan paru.
3.Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh, kehilangan cairan karena takipnea, masukan cairan kurang.
4.Resiko tinggi perubahan suhu tubuh, hipertemia berhubungan dengan respons inflamasi terhadap inpeksi paru.
5.Kecemasan orang tua berhubungan dengan penyakit anaknya.
6.Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan pengobatan yang diperlukan/ perawatan di rumah berhubungan dengan kurangnya informasi.
C.Perencanaan
1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi lendir yang berlebih.
Tujuan : berdihan jalan nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam.
Kriteria hasil :- Menunjukkan jalan nafas bebas/ lancar.
-Pada auskultasi tidak terdengar ronchi dan rales.
-Frekwensi normal sesuai dengan umur.
-Lendir dapat dikeluarkan.
Intervensi
Pantau jalan nafas dan pertahankan kepatenannya.
a.Letakkan anak dalam posisi semi fowler.
b.Berikan terapi uap seperti yang di instruksikan oleh dokter.
c.Lakukan drainase postural, perkusi dan vibrasi sesuai kebutuhan dan toleransi anak.
d.Lakukan penghisapan yang dalam sesuai kebutuhan.
e.Berikan istirahat yang cukup.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi pada jaringan paru.
Tujuan : Gangguan pertukaran gas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam.
Kriteria hasil :- Tidak terjadi sianosis.
-Frekwensi pernafasan normal sesuai dengan umur.
-Gas darah dalam batas normal.
-Jalan nafas normal tidak ada gangguan.
Intervensi :
-Observasi tanda vital terutama pernafasan setiap 2 – 4 jam.
-Kaji suara nafas, pola nafas, penggunaan otot dada dan adanya sianosis.
-Pertahankan lingkungan sejuk, nyaman dan ventilasi cukup.
-Berikan posisi semi fowler atau di tinggikan tempat tidur.
-Sediakan oksigen melaui kanule dan berikan sesuai program medik.
-Berikan terapi antibiotic sesuai program medik.
-Analisa gas darah sesuai program medik.
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh, kehilangan cairan karena tokipnea.
Tujuan : Resiko tinggi kekurangan volume cairan tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam.
Kritera Hasil : - tanda vital dalam batas normal.
-Tidak terjadi dehidrasi, turgor kulit baik, membrane mukosa lembab
-Cairan masuk dan cairan keluar seimbang.
Intervensi :
-Kaji dan catat status hidrasi : turgor kulit, selaput mukosa, mulut dan bibir.
-Monitor cairan masuk dan keluar.
-Pantau pemberian cairan IV.
-Timbang berat badan.
4. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh : hipertermia berhubungan dengan respon inflamasi terhadap infeksi paru.
Tujuan : Resiko tinggi perubahan suhu tubuh : hipertermi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam.
Intervensi hasil :- Suhu tubuh dalam batas normal (360C – 370C)
-Kulit tidak terasa panas.
-Tidak terjadi kejang.
Intervensi :
-Beri kompres air hangat.
-Ganti alat tenun bila basah dan koto.
-Beri therapy antipiretik, antibiotika sesuai program medik.
-Kaji dan catat cairan masuk dan cairan keluar.
5. Kecemasan orang tua berhubungan dengan penyakit anaknya.
Tujuan : Kecemasan orang tua dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2X24 jam.
Kriteria hasil : - Orang tua tidak gelisah.
-Menyatakan kecemasannya sudah teratasi.
-
Intervensi :
-Kaji tingkat kecemasan orang tua.
-Hilangkan kecemasan orang tua dengan memberi penjelasan mengenai penyakit anaknya.
6. Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan pengobatan yang diperlukanperawatan di rumah berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Kurang pengetahuan orang tua dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam.
Kriteria hasil :- Orang tua berpartisipasi dalam perawatan dan pengobatan.
-Mendemonstrasikan perawatan atau tindakan yang diajarkan.
-Memahami tahapan penyakit.
Intervensi :- Kaji pengetahuan orang tua sebelumnya.
-Informasikan mengenai penyakit anaknya.
Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan, yaitu : penilaian dari seluruh tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Hasil yang telah dicapai dibandingkan dengan hasil yang diharapkan semula. Semua perubahan atau perkembangan yang terjadi pada klien dapat diketahui sehingga dapat menilai sejauh mana pencapaian rencana keperawatan maupun proses dalam memberikan asuhan keperawatan.
Evaluasi dapat dikatakan berhasil apabila semua masalah yang terdapat pada klien dapat diatasi dengan hasil :
1.Jalan nafas kembali normal.
2.Pasien tidak sesak.
3.Suhu tubuh normal.
4.Kekurangan volume cairan tidak terjadi.
5.Balance cairan dapat dipertahankan
Berat badan naik.
Kulit elastis, mukosa mulut lembab.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan :Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :EGC
Nettina, Sandra M. (1996). Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta :EGC
Long, B. C.(1996). Perawatan Madikal Bedah. Jilid 2. Bandung :Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
Soeparma, Sarwono Waspadji. (1991). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta :Balai Penerbit FKUI
Sylvia A. Price, Lorraine Mc Carty Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :EGC